Cuma cerpen biasa :D


                                                Terimakasih Vira

Terlahir dari kalangan yang boleh dibilang sukses dan  kaya raya , Marissa Samara Latief atau biasa dipanggil Icha tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Rambutnya panjang , badannya tinggi dan kurus. Tetapi sayang , sikapnya tak secantik wajahnya. Dia merupakan anak semata wayang pengusaha yang boleh dibilang sukses di Bandung. Besar di kalangan keluarga yang kaya , membuat Icha tumbuh menjadi seorang gadis yang berwatak manja , egois , dan selalu menganggap teman – temannya yang berasal dari golongan menengah kebawah sebagai parasit di sekolah elit nya. Icha memang bersekolah di sekolah yang bisa disebut sebagai sekolah terbesar dan termahal di Bandung. SMA Altavia namanya. Maklum , selain berada di pusat Kota Bandung , sekolah ini juga merupakan sekolah swasta yang dikelola oleh suatu yayasan besar yang pusatnya ada di Jakarta. Bagi siswa atau siswi yang memiliki ‘uang’ maka mereka bisa keluar masuk dengan mudahnya di kawasan sekolah elit  ini . Sebut saja contohnya Icha . Berbeda dengan Savira Prameswari yang berasal dari keluarga menengah kebawah.Untuk masuk di sekolah semahal ini , Vira harus melaluinya lewat jalur beasiswa. Tumbuh di kalangan yang sederhana , membuat Vira terbiasa untuk hidup mandiri , bekerja sepulang sekolah untuk membantu ekonomi keluarganya yang boleh dibilang keadaannya dibawah rata-rata.
            Suatu hari di SMA Altavia.
            “Bruuukk !!” tak sengaja Vira menabrak Icha . “Heeehh .. Loe !! Punya mata gak sih ?” bentak Icha . “Ehm .. maaf .. maaf .. aku tidak sengaja .” jawab Vira sambil membereskan  minuman yang tumpah di baju Icha . “Gak usah pegang-pegang baju gue ! Ini baju mahal tau . Jalan itu pake’ mata , jangan pake’ dengkul !” dengan nada yang sangat keras , Icha masih saja membentak Vira yang mulai menangis dibawah kakinya.
“A.. a.. aku tidak sengaja , Cha .” sambil sesenggukan , Vira masih saja mencoba menjelaskan kepada Icha . “Tadi kan , kamu yang nabrak aku .” lanjutnya disertai tangis yang mulai pecah . Vira masih memberanikan diri untuk membantah tuduhan Icha .
“Loe berani sama gue ?” tantang Icha . “Eng .. eng .. enggak , Cha . Aku .. Cuma .. (hiks) .. ingin menjelaskan.” (terpotong oleh Icha) . “Ahh .. udah ! Diem Loe! Baju gue kotor dan basah gara-gara Loe !” teriak Icha dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya. “Pokoknya , awas aja Loe ! Tunggu pembalasan gue !” Icha pun pergi meninggalkan Vira yang masih menangis karena pertengkaran tadi.
            Setelah kejadian itu , hari-hari Vira yang awalnya menyenangkan kini berubah bagai awan hitam . Icha memang serius dengan perkataannya. Icha yang mulai awal tidak menyukai Vira , kini semakin membenci gadis berkacamata itu. Setiap kali bertemu dengan Vira , Icha selalu menunjukkan tatapan sinisnya yang mengartikan bahwa Icha sangat tidak menyukai dan membenci Vira . Sedangkan Vira , hanya dapat membalas tatapan Icha dengan senyuman tulus yang menandakan bahwa ia sangat berharap bahwa suatu saat nanti Icha dapat memaafkan Vira . Walaupun sebenarnya, kejadian 2 hari yang lalu itu merupakan kecerobohan Icha bukan Vira .     
            Siang ini, ada jadwal latihan basket di SMA Altavia. Vira dan Icha adalah teman satu team di club basket tersebut. Sebelum kejadian 2 hari yang lalu itu saja, Icha sudah sangat tidak menyukai Vira. Bisa ditebak , karena Vira adalah seorang siswi yang tidak kaya raya dan hanya mengandalkan beasiswanya untuk bisa bersekolah di SMA Altavia . Apalagi sekarang ? Icha bahkan lebih membenci Vira. “Ngapain Loe kesini?” bentak Icha.
“Aku kan juga ikut ekskul basket,Cha!” jawab Vira. “Haha..(dengan nada meremehkan) Loe ? Anak kampung ? Ikut basket ? Denger ya Vir, yang boleh ikut ekskul basket cuma gue dan temen-temen gue. Anak orang kaya , dan bukan anak beasiswa kayak Loe!” ancam Icha. “Tapi,Cha?” Vira mencoba membantah semua kata-kata Icha. Tetapi Icha langsung menjawab dengan nada yang lebih keras dan mengancam, “Inget ya SAVIRA PRAMESWARI, mulai sekarang Loe gak usah ikut ekskul ini lagi! Cewek kayak Loe itu gak pantes ikut ekskul kayak gini. Dan mulai detik ini , Loe bisa keluar dari sini!” usir Icha. Icha pun terlihat sangat senang dan tertawa lepas ketika melihat ekspresi wajah Vira yang hanya bisa menangis sembari berlari meninggalkan lapangan basket itu.
            Malam harinya, setelah pulang bekerja dari Chocolate Café, Vira sedang menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang ke rumah. Di tengah hujan yang deras dan hawa dingin yang menusuk tulang dan saraf, Vira hanya sendiri di pinggiran jalanan kota menunggu angkutan di tengah dinginnya malam. Sampai suatu ketika, sebuah mobil mewah menyemprotkan sisa air hujan dari kubangan jalan ke arah Vira. Setelah kaca berwarna hitam dari mobil mewah itu dibuka ternyata sesosok gadis cantik yang sedang tertawa lepas. “Icha!!” batin Vira. “Oops .. Sorry ya Vir, gue sengaja!” kata Icha, kemudian ia melaju pergi tanpa memperhatikan keadaan Vira yang basah kuyup karena ulahnya tadi. “Kamu itu Cha, semoga suatu saat nanti kamu bisa berubah dan tidak meremehkan orang yang keadaannya jauh dibawah kamu.” pinta Vira dalam hati.
            Selama ± 30 menit, akhirnya Vira sampai di rumah yang ada di salah satu komplek perumahan sederhana tepatnya di pinggiran Kota Bandung. Setelah keramas dan berganti baju, Icha masih sempat melanjutkan hobinya untuk membaca buku dan menulis di buku diary kesayangannya.
            Aku ..
            Aku hanya bisa rapuh terkena hembusan angin
            Aku hanya bisa diam dan tak berani membalas tatapan sang bintang
            Tak bisa berbuat apa-apa ketika sang ombak menerjang karang
            Aku ingin mengatakan kepada sang waktu, apakah waktuku tak bisa diulang ?
            Aku tak ingin seperti ini ..
            Aku tak ingin mencari musuh
            Bahkan untuk mencari , terlintas saja tidak ..
            Tuhan …
            Bantu aku, ku ingin seperti dulu
            Meski dia tidak menyukaiku , setidaknya dia tidak membenciku .
Tak terasa setelah menulis selama ± 10 menit ,Vira akhirnya tertidur pulas diatas meja belajarnya. Mungkin karena ia terlalu lelah menjalani kegiatannya hari ini.
Keesokan harinya, Vira bagai terlepas dari beban berat yang selama ini membebani pundaknya. Ia terlepas dari tatapan-tatapan sinis Icha, sindiran-sindiran dan semua kebencian Icha. Terang saja mulai tadi pagi jangankan tatapan sinis Icha, batang hidungnya saja tak nampak. Vira pun berinisiatif untuk mengetahui keadaan Icha lewat Dini, teman sekelas Icha yang sikapnya jauh lebih baik terhadap Vira. “Kamu tau Icha kemana, Din??” tanya Vira kepada Dini. “Eeh .. kamu Vir. Kok tumben nanyain Icha?” jawab Dini. “Enggak .. aku kok heran aja udah seharian ini aku nggak ngelihat Icha . Nggak biasanya Icha kayak gini. Icha kemana ya?” tanya Vira dengan nada yang masih terlihat penasaran. “Emangnya kamu nggak tau Vir, ayah Icha kemarin malam mengalami kecelakaan dan katanya sih keadaannya kritis.” jelas Dini. “Kamu bener, Din?” Vira terlihat kaget ketika mendengar penjelasan Dini. “Yee..ngapain aku bohong sama kamu. Kalau nggak percaya datang aja ke RS.Yasmin, ayah Icha dirawat disana kok. Ehm .. Vir, aku ke kantin dulu ya? Lapeerr nih . Ehehe!” Dini pun segera beranjak dari kelasnya dan meninggalkan Vira yang masih mematung. Mungkin Vira terlalu kaget mendengar keadaan ayah Icha. “Icha ? seorang anak pengusaha kaya yang biasa hidup enak dan dimanja oleh ayahnya, pasti sekarang lagi sedih banget. Kasian kamu Cha.” batin Vira. Bel sekolah berbunyi, membuyarkan lamunan Vira. Vira pun segera beranjak dari kelas Icha dan Dini. Sesampainya di kelas, suasana kelas Vira ternyata sudah ramai dan gaduh. Mereka semua ternyata sudah mengetahui keadaan ayah Icha. “Kasihan banget tuh anak. Mungkin itu karma buat Icha kali ya?” bisik salah seorang siswi yang juga pernah bermasalah dengan Icha. “Haha .. Biar tau rasa tuh si Icha!” balas siswi lainnya. “Mereka itu gimana sih, Li? Ada temennya yang kena musibah kok tambah diketawain.” tanya Vira kepada Lia, sahabatnya. “Ya udah lah Vir, nggak usah dipikirin juga!” jawab Lia dengan santainya. Lia juga tidak terlalu menyukai Icha karena sifat Icha yang sombong. “Tapi Li, kasihan kan Icha. Pokoknya sepulang sekolah nanti aku mau jenguk ayah Icha.” kata Vira dengan mantap. “Kamu mau jenguk ayah Icha? Udah deh Vir, nggak usah cari masalah.” saran Lia. “Orang mau berniat baik kok dibilang cari masalah. Kamu mau ikut nggak,Li?” tanya Vira. “Ehm .. gimana ya ? Nggak usah deh makasih. Aku mau ngerjain tugas aja di rumah. Kamu nggak apa-apa kan berangkat sendiri?” balas Lia. “Oh gitu, iya udah nggak apa-apa kok. Aku berangkat sendiri aja.” jawab Icha. Perbincangan mereka berdua pun terhenti karena ternyata Bu Titik, guru Biologi mereka sudah ada di dalam ruangan.
Sepulang sekolah, Vira benar-benar datang ke RS.Yasmin untuk menjenguk ayah Icha. Tetapi sesampainya disana, sudah bisa dibayangkan reaksi Icha saat melihat kedatangan Vira. “Ngapain Loe kesini? Mau ngasih selamat sama gue? Udah deh, nggak usah sok perhatian dan sok baik sama gue!” semprot Icha. “Kok kamu bilang gitu sih, Cha? Aku datang kesini dengan niat baik, aku mau jenguk ayah kamu!” Vira sudah mulai berani menjelaskan. “Gak perlu. Ayahku udah sembuh!” dengan judesnya Icha mencoba menjawab semua penjelasan Vira. “Kamu bohong Cha. Aku tau ayah kamu lagi kritis!” Vira kembali memberanikan diri. “Ayahku udah sembuh!!” Icha mengulangi perkataannya. Bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tetapi tiba-tiba tangis Icha pecah. Air matanya tak bisa lagi dibendung. Ia tidak bisa membohongi Vira. Icha menangis sejadi-jadinya. Dan keadaan pun berubah menjadi sunyi senyap.
            Beberapa saat kemudian ..
            “Icha?” terdengar suara seorang laki-laki yang berumur sekitar 45 tahun keluar dari ruang rawat ayah Icha. “Iya dok. Kenapa? Ayah saya masih baik-baik saja kan?” harap Icha. “Kamu harus sabar ya? Ayah kamu kehilangan banyak darah dalam kecelakaan tadi malam. Ayah kamu golongan darahnya A, sedangkan persediaan darah A di rumah sakit ini sedang kosong. Kami sudah coba mencari pendonor dan menghubungi Palang Merah Indonesia, tetapi sampai sekarang masih belum ada jawaban.” jelas dokter yang ternyata bernama Dr.Rusli itu. “Lalu saya harus bagaimana,Dok?” tangis Icha semakin tak bisa ditahan lagi. “Darah kamu apa, Cha?” tanya Dr.Rusli. “Darah saya O dok . Darah saya sama seperti darah mama.” jelas Icha. “Oh iya , mulai tadi malam saya tidak melihat mama kamu. Mama mu kemana?” dokter itu masih terus bertanya. “Mama masih di luar negeri dok. Mungkin mama sudah tidak peduli lagi dengan saya dan ayah.” jelas Icha diiringi tetesan air matanya yang sulit untuk dihentikan. “Kamu yang sabar, Cha. Dokter tinggal dulu.” Dokter Rusli pun pergi meninggalkan Icha. Dan sekarang, Icha hanya kembali berdua dengan Vira. “Aku baru tahu kamu kayak gini, Cha. Seorang gadis sombong yang tidak pernah menghargai orang lain, menangis sejadi-jadinya karena takut kehilangan orang yang disayang. Aku akan bantu kamu. Pasti Cha! Aku juga pernah kehilangan orang yang aku sayang, dan aku nggak mau kamu ngerasain hal yang sama. Karena rasanya itu sedih dan sakit  banget. Ayah kamu pasti sembuh, Cha!” batin Vira.
            “Ngapain Loe masih disini?” suara Icha membuyarkan lamunan Vira. “Aku mau nemenin kamu, Cha!” jawab Vira. “Gak perlu. Aku nggak butuh kamu. Aku bisa jaga ayahku sendiri.” Icha masih saja bersikap sok kuat. “Kamu yakin, Cha?” tanya Vira. “Yakin. Aku bisa sendiri. Aku nggak butuh kamu!” bentak Icha. Vira pun akhirnya pergi meninggalkan Icha sendirian.
            Tetapi, seperti bisa diduga Vira tidak langsung pulang ke rumahnya. Vira diam-diam datang ke ruangan Dokter Rusli dan coba menjelaskan maksudnya datang kesana.
“Permisi, Dok.” kata Vira. “Iya . Kamu siapa?” Dokter Rusli balik bertanya. “Kenalin Dok, saya Vira temannya Icha. Maksud saya datang kesini (menarik nafas sebentar) saya mau mendonorkan darah saya buat ayah Icha, Dok.” jelas Vira singkat, padat, dan jelas. “Darah kamu apa?” tanya dokter yang rambutnya sudah mulai memutih itu. “Darah saya A, Dok!” kata Vira dengan mantap. “Darimana kamu tahu golongan darah ayah Icha?” tanya si dokter. “Tadi saya mendengar percakapan antara dokter dengan Icha.” jelas Vira.
“Oke, kamu ikut saya!”. “Baik, Dok.” jawab Vira. Setelah mendonorkan darahnya Vira berkata, “Dok, jangan kasih tahu Icha ya, kalau saya yang donorin darah buat ayahnya.”
“Tapi , kenapa ?” tanya Dr.Rusli. “Icha memang teman saya . Tapi Icha tidak menyukai saya, Dok. Bahkan boleh dibilang membenci. Saya takut, kalau Icha tahu darah yang mengalir di dalam tubuh ayahnya sekarang adalah darah orang miskin, Icha akan semakin membenci saya!” jelas Vira dengan air mata yang tanpa disadari kini mulai mengalir deras di pipi lembutnya. “Kamu memang anak baik Vira. Terimakasih atas bantuan kamu kepada Icha dan ayahnya. Saya tidak akan beri tahu Icha soal ini.” kata Dr.Rusli . “Baik, Dok. Terimakasih juga karena dokter sudah mau mengabulkan permintaan saya.”
Vira pun beranjak keluar dari ruangan Dr.Rusli dan berniat untuk segera pulang.
            Keesokan harinya, Icha masih menunggu ayahnya di rumah sakit. Icha berniat untuk menanyakan keadaan ayahnya kepada Dr.Rusli sekarang. “Dok .. gimana keadaan ayah sekarang?” tanya Icha dengan nada yang terdengar seperti orang cemas dan ketakutan. “Tenang dulu, Cha. Ayah kamu sudah melalui masa kritisnya. Tadi malam ada seseorang yang berbaik hati untuk mau mendonorkan darahnya untuk ayah kamu.” jelas Dr.Rusli. “Siapa, Dok?” tanya Icha penasaran. “Yang pasti dia adalah orang baik, Cha.” jawab dokter itu dengan sedikit rasa gugup. Maklum saja, tidak biasanya seorang dokter membohongi salah satu anggota keluarga pasien dalam masalah yang boleh dibilang sangat penting seperti ini. “Siapa Dok ? Siapa?” paksa Icha. Icha yang terus memaksa dan ingin tahu siapa identitas pendonor itu akhirnya membuat Dr.Rusli tidak bisa menjaga rahasia dan permintaan Vira. Dalam keadaan seperti ini, keluarga pasien memang harus tahu siapa pendonor yang telah membantu si pasien. “Kamu benar mau tahu siapa orang yang sudah mau mendonorkan darahnya buat ayah kamu?” Dr.Rusli memastikan. “IYA DOK!!” kata Icha dengan sangat jelas. “Dia .. Dia .. adalah Vira. Teman sekolah kamu sendiri.” jelas dokter itu. “VIRA??” teriak Icha saking kagetnya.
“Iya. Sekarang kamu sudah tahu kan ? Siapa pendonor darah untuk ayah kamu. Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan ini karena saya juga harus memeriksa pasien yang lain.” perintah Dr.Rusli. “Baik, Dok.” Icha menjawab dengan keadaan yang masih kaget , karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
            Sepanjang hari, Icha terus memikirkan perkataan Dr.Rusli. “Vira .. Orang yang selama ini selalu gue jahatin, sekarang malah dia yang bantu ayah. Malah dia yang bisa nolong ayah dan nyelametin ayah dari masa kritisnya. Dia juga yang udah relain donorin darahnya buat orang tua yang selama ini anaknya  udah jahat banget sama dia. Loe memang orang baik Vir. Bener kata Dr.Rusli. Maaf karena selama ini gue udah sering ngejahatin Loe!” batin Vira dalam hati. “Dan mulai besok, gue udah nggak mau jahat lagi sama elu! Gue pengen berubah jadi orang baik dan punya temen yang baik kayak Loe! Makasih kerena elu udah nolongin bokap gue!” Icha melanjutkan.
Baru kali ini , Icha mengucapkan terimakasih kepada orang lain. Apalagi ini kepada .. Vira??
            Keesokan harinya , Icha sudah masuk ke sekolah. Hari ini, Icha memang berniat untuk minta maaf kepada Vira dan juga teman-teman yang sudah Icha jahatin selama ini. SMA Altavia bagai dihempas ombak dan diterjang angin topan. Bagaimana tidak, seorang siswi yang boleh disebut sebagai ratu sekolah dan yang pasti adalah seorang anak konglomerat minta maaf kepada anak-anak kelas bawah dan rendahan. Semua teman-teman menganggap dan merespon dengan baik keadaan dan niat Icha ini. Icha meminta maaf lewat speaker sekolah agar semua teman-temannya tahu bahwa Icha memang benar-benar tulus untuk minta maaf. “Dan khusus buat Vira, Loe bisa masuk di tim basket lagi. Gue nggak akan ngejahatin dan menyambut Loe dengan tatapan-tatapan sinis gue! Loe bisa sekolah dengan tenang mulai detik ini.” kata Icha sambil sedikit tertawa. Vira pun yang mendengar kata-kata Icha ini hanya bisa tersenyum seraya berfikir, “Terimakasih Tuhan, engkau mendengar dan mengabulkan pinta serta doaku. Terimakasih karena engkau telah merubah Icha. Temanku yang cantik dan sebenarnya memang baik hati.”
            Dan semenjak kejadian itu, sikap Icha berubah. Bukan hanya kepada Vira, tetapi juga teman-teman yang lainnya. “Mulai sekarang aku janji Tuhan, aku nggak akan meremehkan orang lain lagi. Aku janji, aku akan berubah. Aku nggak mau jadi orang jahat lagi. Aku janji berubah untuk-Mu dan untuk ayah. Terimakasih Vira, aku berubah dan belajar banyak dari hidup dan kehidupan kamu!” batin Icha seraya tersenyum.
           

Comments (0)

Posting Komentar